Senin, 17 November 2025 – 19: 10 WIB
Jakarta — Perubahan mood pada perempuan sering kali dianggap sebagai sifat “baperan” atau terlalu sensitif. Padahal, kondisi tersebut memiliki dasar ilmiah yang kuat dan berhubungan erat dengan faktor biologis serta psikologis.
Baca Juga:
Moody’s Pertahankan Sovereign Credit Ranking RI Baa 2, Gubernur BI: Bentuk Kepercayaan Internasional
Para ahli kesehatan mental mencatat bahwa fluktuasi suasana hati yang dialami perempuan bukanlah hal sepele, melainkan respons tubuh terhadap perubahan hormon, kondisi otak, hingga proses internalisasi emosi yang berjalan terus-menerus.
Dari sisi biologis, pengaruh hormon berperan besar terhadap perubahan suasana hati.
Baca Juga:
10 Tips Jitu Atasi Perubahan Mood yang Berubah-ubah, Tidur yang Cukup
“Selain hormone, memiliki dampak ke state of mind langsung dan berkaitan dengan peningkatan serotonin dan dopamin,” kata Filmore Psychiatrist, dr. Karina Kalani, SpKJ, dalam acara Grand Opening Filmore clinical Facility Setiabudi, di Jakarta, Senin 17 November 2025
Ia menjelaskan bahwa serotonin merupakan hormon yang berperan dalam ketenangan dan kenyamanan, sedangkan dopamin berkaitan dengan motivasi dan semangat dalam mengambil keputusan.
Baca Juga:
Anda Terlalu Baperan Jadi Orang? Deretan Makanan Ini Wajib Anda Konsumsi
Selama siklus menstruasi, kadar hormon estrogen naik dan turun dengan cepat. Pada fase tertentu, estrogen dapat meningkatkan energi dan motivasi. Namun menjelang PMS, ketidakstabilan hormon tersebut memicu sensasi emosional yang lebih intens.
“Kalau siklus haid memang hormon esterogen sedang naik jadi semangat, motivasi, apa yang mau dikerjakan menuju waktu PMS itu meningkat. Itu karena ketidakstabilan esterogen,” jelasnya.
Gitta Amelia, Pendiri & CEO FILM CONFIDENCE & Dr. Karina Kalani
- VIVA/Rizkya Fajarani Bahar
Selain estrogen, hormon progesteron juga memiliki peran penting. Ketika kedua hormon ini fluktuatif, otak merespons dengan perubahan mood yang kadang terjadi setiap hari.
Namun penyebab mood swing pada perempuan tidak hanya berasal dari hormon. Faktor psikologis seperti kebiasaan refleksi diri turut berpengaruh.
“Lebih banyak refleksi diri. Ketika refleksi biasanya ada internalizing, makanya saat nggak ada kerjaan, biasanya mengulang yang terjadi dan itu mempengaruhi mood. Itu yang membuat perempuan jadi moody,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa ekspresi emosional perempuan bukanlah tanda tidak mampu mengelola emosi, melainkan bagian dari cara mereka berkomunikasi.
“Itu sebenarnya adalah cara perempuan menunjukkan komunikasi, itu dianggap sebagai komunikasi dan upayanya,” ujarnya.
Bahkan, tanpa disadari, perempuan sering mengekspresikan perasaan mereka sebagai bentuk komunikasi interpersonal.
Halaman Selanjutnya
“Secara nggak sadar perempuan menunjukkan emosi dengan cara speak up. Itu sesuatu yang dianggap nggak bisa kelola emosi, padahal itu caranya berkomunikasi,” katanya.













