Senin, 17 November 2025 – 17:37 WIB

Jakarta – Perusahaan rintisan atau startup kecerdasan buatan (kecerdasan buatan/AI) asal China, DeepSeek, mendadak muncul dalam World Internet Conference di Wuzhen, Zhejiang.

Baca Juga:

Karyawan Siap-siap! Survei Sebut AI Bakal Ubah 89 Persen Pekerjaan di 2026

Kemunculan ini terbilang langka karena rival ChatGPT tersebut memilih tampil tidak menjadi sorotan publik.

Dikutip VIVA dari SCMPSenin, 17 November 2025, peneliti senior DeepSeek Chen Deli menegaskan komitmennya untuk mengembangkan kecerdasan buatan umum (kecerdasan umum buatan/AGI).

Baca Juga:

Penipuan Finansial Masih Marak! OJK Blokir 611 Pinjol hingga Puluhan Investasi Bodong

Meski begitu, ia mengakui teknologi tersebut berpotensi memunculkan dampak berbahaya. Deli juga mengakui tidak berlebihan jika AGI dianggap membahayakan.

Kekhawatiran serupa sempat diangkat dalam surat terbuka bulan lalu yang menyerukan pelarangan pengembangan kecerdasan super AI sebelum ada dukungan publik dan konsensus ilmiah yang kuat.

Baca Juga:

Penipuan Makin Canggih! Ini Bocoran OJK soal Modus AI dan Cara Ampuh Menghindarinya

Menurutnya, permintaan memperlambat atau menghentikan pengembangan AI tidak realistis.

“Saya optimistis dengan teknologinya tapi pesimistis dengan dampaknya terhadap masyarakat. Dengan insentif keuntungan yang begitu besar, revolusi AI justru dianggap berhasil ketika sebagian besar pekerjaan manusia bisa digantikan,” jelas dia.

Deli menilai hubungan manusia dan AI saat ini masih dalam ‘fase bulan madu’. Namun, ia memperingatkan dalam jangka panjang, mayoritas pekerjaan bisa sepenuhnya tergantikan dengan AI.

Ia pun mendorong perusahaan AI agar terbuka kepada publik soal pekerjaan yang paling cepat tergantikan.

“Manusia pada akhirnya akan terbebas dari pekerjaan. Kedengarannya bagus, tapi itu justru bisa mengguncang pondasi masyarakat,” tuturnya.

Sebelumnya, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menilai kecerdasan buatan (AI) tidak dapat sepenuhnya menggantikan manusia, sebab komunikasi manusia bukan hanya melalui kata-kata, tetapi juga lewat gestur dan ekspresi tubuh.

Perkembangan kecerdasan buatan telah menghadirkan disrupsi di berbagai bidang, termasuk dalam cara berkomunikasi.

Dengan teknologi AI generatif, proses produksi konten, baik berupa teks, gambar, maupun video, bisa dilakukan dengan cepat dan meminimalkan keterlibatan manusia.

Namun, di balik kecanggihan teknologi AI yang mendekati kemampuan manusia, AI masih memiliki kelemahan utama, yaitu tidak memiliki empati dan kemampuan berpikir kritis.

“Satu hal yang membuat manusia berbeda dengan mesin ini adalah kemampuan empati dan kemampuan critical thinking,” ungkap Wamenkomdigi.

Halaman Selanjutnya

Selain itu, AI juga dapat berhalusinasi sehingga konten yang dihasilkan olehnya tidak selalu akurat. Nezar Patria lalu mencontohkan salah satu kasus konsultan internasional yang mengeluarkan laporan untuk pemerintah Australia dengan sumber data yang tidak pernah ada.

Tautan Sumber